Senin, 08 Juli 2013

OLAHRAGA TRADISIONAL

MENYUMPIT

Banyak masyarakat adat memiliki sumpit misalnya di suku Dayak Indonesia dan suku suku pribumi di Amerika Selatan . Sumpit biasanya berbentuk tabung yang memungkinkan panah kecil yang ditembak melesat ke sasaran. Di Jepang, Sumpit disebut fukiya digunakan samurai digunakan sebagai senjata untuk mematikan musuh yang anak sumpitnya diracuni dengan racun dari ikan buntal.
Pada zaman penjajahan di Kalimantan dahulu kala, serdadu Belanda bersenjatakan senapan dengan teknologi mutakhir pada masanya, sementara prajurit Dayak umumnya hanya mengandalkan sumpit. Akan tetapi, serdadu Belanda ternyata jauh lebih takut terkena anak sumpit ketimbang prajurit Dayak diterjang peluru. Yang membuat pihak penjajah gentar itu adalah anak sumpit yang beracun. Sebelum berangkat ke medan laga, prajurit Dayak mengolesi mata anak sumpit dengan getah pohon ipuh atau pohon iren. Dalam kesenyapan, mereka beraksi melepaskan anak sumpit yang disebut damek.
Sumpit tradisional terdiri tabung bambu atau kayu yang panjangnya 1-3 m , Sumpit dilengkapi dengan anak sumpit dengan bentuk bulat kira-kira diameternya kurang dari 1 cm. Anak sumpit (damek) dapat terbuat dari bambu yang salah satu ujungnya berbentuk seperti kerucut yang terbuat dari kayu yang massanya ringan (dari kayu pelawi). Ini berfungsi supaya anak sumpit dapat melesat dengan lurus atau sebagai penyeimbang saat lepas dari buluh. Sedangkan ujung yang lain runcing dan biasanya diberi racun yang sangat mematikan binatang buruan. Racun terbuat dari getah tumbuh-tumbuhan hutan dan sampai saat ini masih belum ada penawar racunnya. Sumpit digunakan dengan cara ditiup. Kuat tidaknya napas penyumpit akan menentukan sejauh mana jarak anak sumpit dapat melesat ke sasarannya

Bagian pangkal sumpit biasanya lebih besar dan pada bagian inilah anak sumpit dimasukkan lalu ditiup. Antara Buluh sumpit dan anak sumpit memiliki ketergantungan yang tinggi (saling mendukung). Walaupun buluhnya bagus tetapi anak sumpit dibuat sembarangan maka hasilnya juga kurang memuaskan serta sebaliknya. Artinya kedua saling beperan penting dalam ketepatan mengenai sasaran/mangsa walaupun juga napas penyumpit serta kemahiran juga sangat berperan penting disini.
Untuk mencapai sasaran yang tepat dan kuat bernapas, panjang sumpit harus sesuai dengan tinggi badan orang yang menggunakannya, Bagian yang paling penting dari sumpitan, selain batang sumpit, yaitu pelurunya atau anak sumpitnya yang disebut damek. Ujung anak sumpit runcing, sedang bagian pangkal belakang ada semacam gabus dan sejenis dahan pohon agar anak sumpit melayang saat menuju sasaran. Racun damek oleh etnis Dayak Lundayeh disebut parir. Racun yang sangat mematikan ini merupakan campuran dari berbagai getah pohon, ramuan tumbuhan serta bisa binatang seperti ular dan kalajengking
 Sumpit Sebagai Olahraga


Fungsi sumpit bukan lagi untuk berburu atau untuk berperang melainkan diperlombakan pada olahraga-olahraga daerah. Menjadi nomor olahraga yang diperhitungkan pada setiap pertandingan yang selenggarakan di daerah. Olahraga sumpit tidak jauh berbeda dengan olahraga yang lainnya seperti olahraga tembak atau olahraga panah. Biasanya untuk sasarannya dibuat lingkaran dari karton atau kertas. Peserta lomba berlomba-lomba untuk mengenai lingkaran yang telah dibuat dengan jarak yang telah ditentukan oleh panitia lomba. Di Jepang olahraga sumpit dibina oleh International Fukiyado Association (IFA) .

Cara Pembuatan Sumpit



Dalam proses pembuatan sumpit atau sipet dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama ketrampilan tangan dari sang pembuat. Cara kedua, yaitu dengan menggunakan tenaga dari alam dengan memanfaatkan kekuatan arus air riam yang dibuat menjadi semacam kincir penumbuk padi. Harga jual sumpit atau sipet telah ditentukan oleh hukum adat, yaitu sebesar jipen ije atau due halamaung taheta. Menurut kepercayaan suku Dayak sumpit atau sipet ini tidak boleh digunakan untuk membunuh sesama. Sumpit atau sipet hanya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti berburu. Sipet ini tidak diperkenankan atau pantang diinjak-injak apalagi dipotong dengan parang karena jika hal tersebut dilakukan artinya melanggar hukum adat, yang dapat mengakibatkan pelakunya akan dituntut dalam rapat adat.



 LOGO




GASING

OLAHRAGA TRADISIONAL

TRADISI SASTRA LISAN : TARSUL

TARSUL


Seni bertutur atau berceritera merupakan bagian dari seni vokal, dalam bertutur tersebut kisah yang sering ceriterakan biasanya adalah cerita rakyat, cerita kepahlawanan, cerita sejarah, cerita pendidikan moral dan etika. Ceritera bertutur hampir dijumpai di seluruh nusantara seperti Macapatan di Jogja dan Jawa Tengah, Ma'sinrili pada suku Makassar, Kecaping pada suku Bugis, dan Tarsul pada suku Kutai di Kalimantan Timur. 
Tarsul merupakan kesenian yang msih sangat digemari oleh masyarakat suku Kutai, dan sampai saat ini regenerasi dan eksistensi kesenian Tarsul masih tetap berlanjut. Kesenian Tarsul boleh dimainkan baik anak-anak, dewasa maupun orang tua, laki-laki maupun perempuan. Tarsul yang ada pada masyarakat suku Kutai umumnya diiringi dengan alunan musik tingkilan atau gambus, terkadang pula tanpa diiringi oleh musik jadi hanya mengandalkan vokal penyaji tarsul. 
Format tarsul .......   






BEMAMAI




NGAPEH





BADENDANG

TRADISI SASTRA LISAN

Selasa, 04 Juni 2013

SEJARAH SINGA GEWEH, SINGA KARTI DAN SINGA GEMBARA

Keberadaan Sangatta sebagai bagian dari Kabupaten Kutai Kartenegara tidak terasa lagi. Sejak tahun 1999 wilayah yang dahulu merupakan wilayah Bengalon termasuk penguasa wilayah sungai Sangatta sudah menjadi wilayah Kabupaten Kutai Timur, Namun demikian, kekuatan sebagai bagian dari Kerajaan Kutai Kartanegara masih juga diingat dan menjadi kekuatan jiwa masyarakatnya. Seperti nama Singa Geweh, Singa Karti dan Singa Gembara masih sangat melekat pada masyarakat lokal Sangatta.
Singa Geweh, Singa Karti dan Singa Gembara adalah orang kepercayaan Sultan Kutai Kartanegara. Mereka ini mengorbankan dirinya menjadi makhluk gaib berwujud singa, Raja Kutai memberikan mereka mandat kepada "makhluk gaib " ini untuk selamanya menjaga hutan di wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara. Bagi orang-orang yang akan ke hutan sebelumnya harus membaca mantera khusus, dengan membaca mantera tersebut maka "  SANG SINGA " tersebut tahu bahwa yang masuk ke hutan tersebut adalah masih keturunan raja dan tidak akan mengganggunya.
Seperti dijelaskan diawal SEJARAH BENGALON, wilayah Bengalon merupakan wilayah khusus bagi Kerajaan Kutai Kartanegara, wilayahnya mencakup daerah antara sungai Sangatta di bagian Selatan dan sungai Kaliorang di sisi utara. Wilayah sungai Sangatta menjadi "wilayah lain" dan dikelola oleh Ketua Adat yang ditunjuk  oleh Sultan Kutai Kartanegara. Berdasarkan sejarah,  tercatat nana-nama Kepala Adat di wilayah Sangatta, antara lain :
1. Gembara ( 1678 - 1709 )
2. Djanti ( 1709 - 1721 )
3. Singa Tua ( 1721 - 1737 )
4. Singa Geweh ( 1737 - 1`751 )
5. Singa Muda ( 1751 - 1781 )
6. Macan ( 1781 - 1801 )
7. Karti ( 1801 - 1830 )
8. Tali ( 1830 - 1842 )
9. Bungul ( 1842 - 1855 )
10. Sampai ( 1855 - 1901 )

SEJARAH BENGALON

Secara khusus disebutkan bahwa wilayah Bengalon yang sekarang merupakan wilayah administrasi Kutai Timur, namun pada waktu jaman Kerajaan Kutai Kartanegara, Bengalon merupakan wilayah Sumahan. Wilayah Sumahan adalah daerah yang dijadikan barang mahar waktu perkawinan Raja Kutai bernama Aji Batara Agung Paduka Nira ( 1350 - 1360 ) dengan Paduka Suri ( putri dari kepala pemerintahan wilayah Bengalon ) Disebutkan bahwa putri Bengalon meminta " membilang kersik sebokor, membilang karang selanjung, membilang daun rinding yang bergerak ". Aji Batara Agung Batara Nira menyetujui dengan menyebutkan bahwa " mana-mana yang mendengar Petong ini meletop, itulah sumahannya, mana-mana yang tidak mau menurut itu katakan kepada aku, akulah lawannya dan lagi orang Bengalon hingga jenangku sampai di anak cucuku hingga bersahabat saja dengan anak cucuku. Mana-mana yang menjadi raja di negeri Kutai inilah perjanjian Kutai dengan Bengalon sampai hari ini tiada memberi upeti ke Kutai Kartanegara sebab sumuhannya belum habis dibayar. Jika susah Bengalon susah juga Kutai, dan jika susah Kutai susah juga Bengalon sampai sekarang ini.
Dan pada akhirnya Putri Bengalon dijadikan Paduka Ratu dari Kerajaan Kutai Kertanegara. wilayah Bengalon dipimpin oleh seorang kepala pemerintahan yang takluk kepada Sultan Kutai Kartanegara.
Wilayah yang disebutkan sebagai Sumahan itu terletak antara sungai Sangatta (dari muara hingga ke hulu) di sisi selatan dan sungai Kaliorang dari muara hingga hulu, sisi barat adalah pegunungan (dekat degan dua hulu tersebut), serta sisi timur adalah selat Makassar, dapat dibayangkan bahwa wilayah tanah Sumuhan Bengalon itu terdapat di hampir seluruh wilayah Kabupaten Kutai Timur. Tanah di Bengalon secara historis merupakan tanah pusaka dari Kerajaan Kutai Kartanegara. hanya saja Bengalon yang merupakan tanah Sumuhan memiliki keistimewaan, tanah ini tidak membayar upeti kepada kerajaan. wilayah Bengalon terkenal dengan banyaknya hasil komoditas dan hasil bumi, hasil bumi ini juga yang akan dibawa ke Kutai Kartanergara pada waktu Upacara Erau. Bengalon juga mendapat keistimewaan untuk mengadakan Upacara Erau namun lingkupnya agak kecil dan sederhana, kegiatan upacara Erau Bengalon mirip dengan Upacara Erau Kutai Kartanegara.

Rabu, 22 Mei 2013

ASAL USUL NAMA SANGATTA

Dalam sejarah masyarakat Kutai Timur tidak dapat dipisahkan dari pengaruh sejarah perkembangan Kerajaan Kutai Kartanegara, Berdasarkan tradisi lisan masyarakat, istilah Sangatta pernah disebut dalam cerita Aji Pao, Aji Pao adalah bangsawan Kutai yang berasal dari suku  Bugis dan mendapat gelar kehormat "Aji" dari Sultan Kutai. Selain mendapat gelar juga mendapatkan wilayah yang dapat dipergunakan untuk lahan pertanian, perburuan, dan sekaligus tempat permukiman beserta pengikut-pengikutnya.
Menurut legenda, Aji Pao memiliki etos kerja yang tinggi dan pantang menyerah, tokoh yang berwawasan luas dan berkeinginan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang didasari asas kekeluargaan, kebersamaan dan kegotongroyongan,
Menurut cerita rakyat, dalam perjalanan menuju wilayah yang diberikan oleh Raja Kutai, Aji Pao beserta pengawal dan pengikutnya menemukan aliran sungai yang dihuni oleh makhluk halus yang disebut atau digelari SANG. Ditempat tersebut terdapat tiga makhluk halus atau tiga SANG, yaitu SANG ATTAK sebagai penjaga anak sungai api-api, SANG KIMA yang menjaga anak aliran sungai Sangatta yang bercabang menjadi dua, dan SANG ANTAN yang juga menjaga sungai api-api yang sekarang disebut Sungai Santan.