Selasa, 28 November 2017

LAHIRNYA AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI

Tersebutlah dalam hikayat Kutai, bahwasanya Petinggi Jaitan Layar dengan istrinya Nyai Jaitan Layar tinggal di sebuah gunung, ditempat dimana mereka membuka sebuah kebun untuk keperluan hidupnya sehari-hari, puluhan tahun mereka hidup sebagai suami isteri, namun Dewa di kayangan tidak menganugerahkan seorang anakpun, Sering Petinggi Jaitan Layar beserta istrinya bertapa menyendiri menjauhi kerabatnya dan rakyatnya, memohon kepada Dewata untuk mendapatkan anak, setiap hari dupa setanggi dibakar dan bersemedi dengan khusuknya.
Pada suatu malam sedang mereka tertidur dengan nyenyaknya terdengar suatu suara diluar rumah yang gegap gempita menyentakkan mereka dari tidur diperaduan. Merekapun bangkit membuka pintu untuk melihat apa gerangan yang terjadi diluar rumah. Apakah yang terlihat oleh kedua laki dan istri ini? Sebuah batu besar yang melayang dari udara menghempas ke tanah  dan pada saat itu malam yang tadinya gelap gulita menjadi terang seakan-akan bulan purnama sedang memancar.
Terkejut melihat batu dan alam yang terang benderang itu, Petinggi beserta istrinya masuk kembali kedalam rumah serta menguncinya dari dalam . Dari dalam rumah mereka mendengar suara yang menyerunya : " Sambut mati babu, tiada sambut mati mama ".
Sampai tiga kali suara itu terdengar oleh Petinggi Jaitan Layar dan akhirnya dengan rasa cemas dijawabnya demikian : " ulur mati lumus, tiada ulur mati lumus ", kemudian terdengan lagi suara : "Sambut mati babu, tiada sambut mati mama" Kini Petinggi Jaitan Layar tanpa ragu-ragu lagi menjawab : " Ulur mati lumus, tiada diulur mati lumus ". Dan terdengarlah gelak ketawa dari luar rumah sambil berkata " Barulah ada jawaban dari tutur kita". Mereka yang diluar rumah itu agaknya sangat gembira, karena tutur katanya mendapatkan jawaban.
Petinggi Jaitan Layar pun tidak merasa takut lagi dan kemudian keluar rumah bersama-sama istrinya menjumpai batu itu, yang ternyata sebuah raga mas. Raga mas itu dibukanya dan betapa terkejutnya Petinggi beserta istrinya tatkala melihat didfalamnya seorang bayi yang diselimuti lampin berwarna kuning. Tangannya sebelah memegang sebuah telur ayam, sedang tangan lainnya memegang keris dari emas, keris mana merupakan kalang kepalanya.
Pada saat itu menjelmalah dibumi tujuh orang Dewa, yang menjatuhkan raga mas itu. Mereka mendekati Petinggi Jaitan Layar dengan muka yang gembira memberi salam dan salah seorang dari dewa itu menyapa Petinggi : " Berterima kasihlah kepada Dewata karena doamu dikabulkan untuk mendapatkan anak. Meskipun tidak melalui rahim istrimu. Bayi ini adalah keturunan dewa-dewa dari kayangan, karena itu jangan disia-siakan pemeliharaannya, jangan dipelihara sebagai anak manusia biasa".
Jangan bayi keturunan dewa ini diletakkan sembarangan diatas tikar, akan tetapi selama empat puluh hari empat puluh malam bayi ini harus dipangku berganti-ganti oleh kaum kerabat Petinggi.
Bilamana engkau ingin memandikan anak ini, maka janganlah dengan iar biasa, akan tetapi dengan air yang diberi bunga wangi. Dan bilamana anakmu sudah besar, janganlah ia menginjak tanah sebelum diadakan ERAU (pesta), dimana pada waktu itu kaki anakmu ini haram diinjakkan pada kepala manusia yang masih hidup dan kepala manusia yang sudah mati.
selain daripada itu kaki anakmu ini diinjakkan pula pada kepala kerbau mati. Demikian pula bila anak ini pertama kalinya ingin mandi ke tepian, maka hendaklah engkau adakan terlebih dahulu upacara Erau (pesta) sebagaimana upacara pada pijak tanah.
Sesudah pesan ini disampaikan oleh salah seorang Dewa itu maka ketujuh orang Dewa itupun naik kembali ke langit. Petinggi dan istrinya dengan penuh bahagia membawa bayi itu masuk kembali ke rumahnya. Bayi ini bercahaya laksana bulan purnama, wajahnya indah tiada bandingnya, siapa memandang bangkit kasih sayang.
Akan tetapi istri petinggi susah hatinya, karena air susunya tidak meneteskan air susu.apa yang bisa diharapkan lagi dari seorang perempuan yang sudah tua untuk bisa menyusui anaknya.
Akhirnya Petinggi Jaitan Layar membakar dupa dan setanggi serta menghamburkan beras kuning, sambil mereka memanjatkan doanya kepada para Dewa agar memberikan kurnia kepada isteri Petinggi supaya payudaranya diberikan air susu yang harum baunya. setelah selesai berdoa maka terdengarlah suara dari langit : "Hai Nyai Jaitan Layar, usap-usapkanlah payudaramu dengan tanganmu berulang-ulang  sampai terpancar air susu dari payudaramu"
Mendengar perintah ini, maka isteri dari Petinggi Jaitan Layar segera mengusap-usap payudaranya sebelah kanan dan pada wakti sampai tiga kali dia berbuat demikian, tiba-tiba mencuratlah dengan derasnya air susu dengan baunya yang sangat harum seperti bau ambar dan kesturi. Maka bayi itupun mulai dapat diberikan air susu dari tetek istri Petinggi Jaitan Layar itu sendiri. Kedua laki isteri itu sangat bahagia melihat bgaimana anaknya keturunan dari Dewa mulai dapat menyusu.
Sesudah tiga hari tiga malam Nyai jaitan Layar, maka tinggallah tali pusat dari bayi itu. Maka semua penduduk Jaitan Layar pun bergembira. Meriam " sapu jagat " ditembakkan sebanyak tujuh kali. selama empat puluh hari empat puluh malam bayi itu dipangku silih berganti dan dipelihara dengan hati hati dan secermat-cermatnya. Selama itu juga telor yang yang sudah menetas menjadi seekor ayam jago makin besar dengan suara kokoknya yang lantang.
Sesuai dengan petunjuk para Dewata, maka anak tersebut dinamakan AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI. Pada waktu Batara Agung berumur lima tahun maka sukarlah dia ditahan untuk bermain-main didalam rumah saja. Ingin dia bermain-main di halaman, dialam bebas dimana dia dapat berlari-larian, berkejar-kejaran dan mandi-mandi di tepian.
Maka Petinggi Jaitan Layar pun mempersiapkan Upacara Tijak Tanah dan Upacara Erau mengantarkan sang anak mandi ke tepian untuk pertama kalinnya. empat puluh hari empat puluh malam diadakan pesta, dimana disediakan makanan dan minuman untuk penduduk. Gamelan Gajah Perwata siang malam ditabuh membawa suasana semakin meriah. Berbagai ragam permainan ketangkasan dipertunjukkan silih berganti.
sesudah erau dilaksanakan empat puluh hari empat puluh malam, maka berbagai macam binatang baik betina maupun jantan disembelih. Disamping itu juga Petinggi Jaitan Layar tidak melupakan pesa dari tujuh orang Dewa yang mengantar Aji Batara Agung Dewa Sakti pada waktu masih jabang bayi kepada Petinggi dua laki istri, yaitu "membunuh" beberapa orang, baik lelaki maupun perempuan untuk dipijak kepalanya oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti " pada Upacara Tijak Tanah,
kepala-kepala binatang dan manusia itu diselimuti dengan kain kuning. Aji Batara Agung Dewa Sakti diarak dan kemudian kakinya dipijakkan.
Kemudian Aji Batara Agung diselimuti dengan kain kuning lalu diarak ke tepian sungai, Di tepi sungai Aji Batara Agung dimandikan dimana kakinya dipijak-pijakkan berturut-turut pada besi dan batu. Semua penduduk Jaitan Layar kemudian turut mandi, baik wanita maupun pria baik orang tua maupun orang muda.
Sesudah selesai upacara mandi, maka khalayak membawa kembali Aji Batara Agung ke rumah orang tuanya, dimana dia diberi pakaian kebesaran. Kemudian dia dibawa ke halaman kembali dengan dilindungi payung agung, diiringi dengan lagu Gamelan Gajah Perwata dan bunyi meriam Sapu Jagat.
Pada saat itu di langit gunturpun berbunyi dengan dahsyatnya yang menggoncangkan bumi dan hujan panaspun turun merintik. Tetap keadaan demikian tidak berlangsung lama, karena kemudian cahaya cerah datang menimpa alam, awan di langit bergulung-gulung seakan-akan memayungi penduduk yang mengadakan upacara di bumi.
Penduduk Jaitan Layar kemudian membuka hamparan dan kaski agung, dimana Aji Batara Agung Dewa Sakti disuruh berbaring. Upacara selanjutnya adalah gigi Aji Batara Agung di asah kemudian disuruh makan sirih.
Sesudah upacara selesai, maka pestapun dimulai dengan mengadakan makan dan minum kepada penduduk, bermacam-macam permainan dipertunjukkan, lelaki perempuan menari siih berganti
Juga tidak ketinggalan diadakan adu binatang,keramaian itu berlaku selama tujuh hari tujuh malam dengan tidak putus-putusnya. Bilamana selesai keramaian ini, maka segala bekas balai-balai yang digunakan untuk pesta ini dibagi-bagikan oleh Petinggi Jaitan Layar kepada penduduk yang melarat, demikian juga hiasan-hiasanrumah oleh Nyai Jaitan Layar dibagikan kepada rakyat
Para undangan dari negeri-negeri dan dusun yang terdekat dengan selesainya pesta ini, semua pamit kepada Petinggi dan kepada Aji Batara Agung Dewa Sakti. Mereka semua memuji-muji Aji Batara Agung dengan kata-kata " Tiada siapapun yangdapat membandingkannya, baik mengenai rupanya maupun mengenai wibawanya. Patutlah dia anak batara dewa-dewa di kayangan ".
selesai pesta ini, maka kehidupan di negeri Jaitan Layar berjalan sebagai biasa kembali, masing-masing penduduk melaksanakan pekerjaaan mencari nafkah sehari-hari dengan aman dan sentosa. sementara itu Aji Batara Agung dewa Sakti makin hari makin dewasa, makin gagah, tampan dan berwibawa.


MD.

Selasa, 29 Agustus 2017

Secara umum kebanyakan penduduk kepulauan Nusantara adalah penutur bahasa Austronesia. Saat ini teori dominan adalah yang dikemukakan  ahli linguistik seperti Peter Bellwood dan Blust, yaitu bahwa tempat asal bahasa Austronesia adalah Taiwan. Sekitar 4000 tahun lalu, sekelompok orang Austronesia mulai bermigrasi ke Filipina. Kira-kira 500 tahun kemudian, ada kelompok yang mulai bermigrasi ke selatan menuju kepulauan Indonesia sekarang, dan ke timur menuju Pasifik.


Namun orang Austronesia ini bukan penghuni pertama pulau Borneo. Antara 6000 dan 7000 tahun lalu, waktu permukaan laut 120 atau 150 meter lebih rendah dari sekarang dan kepulauan Indonesia berupa daratan (para geolog menyebut ini "Daratan Sunda"), manusia sempat bermigrasi dari benua Asia menuju ke selatan dan sempat mencapai benua Australia yang saat itu tidak terlalu jauh dari daratan Asia.


Dari pegunungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Tetek Tahtum menceritakan perpindahan suku Dayak dari daerah hulu menuju daerah hilir sungai.

Di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389. Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1520).

Sebagian besar suku Dayak di wilayah selatan dan timur kalimantan yang memeluk Islam tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai atau orang Banjar dan Suku Kutai. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Amas dan Watang Balangan. Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang pimpinan Banjar Hindu yang terkenal adalah Lambung Mangkurat menurut orang Dayak adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum).Di Kalimantan Timur, orang Suku Tonyoy-Benuaq yang memeluk Agama Islam menyebut dirinya sebagai Suku Kutai. Tidak hanya dari Nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa tercatat mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf hanzi disebutkan bahwa kota yang pertama dikunjungi adalah Banjarmasin. Kunjungan tersebut pada masa Sultan Hidayatullah I dan Sultan Mustain Billah. Hikayat Banjar memberitakan kunjungan tetapi tidak menetap oleh pedagang jung bangsa Tionghoa dan Eropa (disebut Walanda) di Kalimantan Selatan telah terjadi pada masa Kerajaan Banjar Hindu (abad XIV). Pedagang Tionghoa mulai menetap di kota Banjarmasin pada suatu tempat dekat pantai pada tahun 1736.

Kedatangan bangsa Tionghoa di selatan Kalimantan tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.

Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Cheng Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci.


Secara umum, suku Dayak dapat dikategorikan menjadi 7 rumpun suku berdasarkan asal daerahnya. Dari ketujuh daerah tersebut, terdapat 405 sub-suku dengan bahasa yang berbeda satu sama lain. Selain bahasa yang berbeda, dialek atau logat untuk satu bahasa yang sama juga bisa sangat beragam jika berbeda kampung. Untuk itu Hipwee akan membahas 7 rumpun suku Dayak yang ada di Kalimantan berdasakan kemiripan budaya serta asal daerahnya.



1. Dayak Ngaju
Dayak Ngaju (Biaju) merupakan Dayak yang bermukim di daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan atau di daerah Kalimatan Tengah, Kalimatan Selatan, serta Kalimantan Barat bagian selatan. Dayak Ngaju memiliki sub-suku Ngaju, Bakumpai, Katingan, Meratus, Tomun, dll.
Ciri khas dari Dayak Ngaju adalah agama kaharingan yang masih dianut oleh sebagian suku Ngaju, serta upacara Tiwah, atau upacara mengantarkan roh leluhur. Untuk pakaian adat, Dayak Ngaju biasanya menggunakan warna merah sebagai warna dominan, kain atau rompi dari kulit kayu, serta menggunakan bulu burung enggang dan ruai sebagai hiasan kepala.

Pada beberapa tarian adat, kaum wanita Ngaju biasanya juga membawakan tarian dengan menggunakan mandau/parang (contoh : Tari Hetawang Hakangkalu), hal ini berbeda dari wanita sub-suku Dayak lainnya. Selain itu, alat musik tradisional Dayak Ngaju biasanya di dominasi oleh Kecapi Karungut, Rebab, Gandang Tatau, Gong, dan suling.
2. Dayak Apo Kayan
Dayak Apo Kayan merupakan suku Dayak yang berasal dari Hulu sungai Kayan dan dataran tinggi Usun Apau, Baram, Sarawak. Saat ini Dayak Apo Kayan menyebar di daerah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat bagian utara, dan Sarawak, Malaysia. Sub-suku yang termasuk dalam rumpun Apo Kayan adalah Kayan, Kenyah, Bahau, Kelabit, dll. Di Malaysia, Dayak Apo Kayan dikenal dengan sebutan Orang Ulu.
Ciri khas dari Dayak Apo Kayan adalah telinga panjang, serta tato di sekujur tubuh yang menandakan status sosial di masyarakat. Pakaian adat Dayak Apo Kayan biasanya di dominasi oleh warna Hitam, Putih, dan Kuning. Serta dapat ditemukan berbagai hiasan manik-manik dan hiasan bulu enggang.
Alat musik yang paling terkenal dari rumput Dayak Apo Kayan adalah Kecapi tradisional atau Sape' (Bahasa Kayan) atau Sampe' (Bahasa Kenyah), kecapi ini berbeda dari karungut, berfungsi sebagai alat musik melodis dan ukurannya lebih besar. Selain itu ada juga Gong, Sluding/klentangan, Kadire/keledik (alat musik tiup), dan Antoneng.
3. Dayak Iban
Dayak Iban, disebut juga Dayak Laut, merupakan rumpun dayak yang berada di daerah utara pulau Kalimantan. Dayak Iban menyebar di daerah Kalimantan Barat bagian utara, Sabah, Brunei, dan Sebagian besar ada di Sarawak. Dari segi bahasa Dayak Iban memiliki kemiripan dengan bahasa Melayu. Adapun sub-suku dari Dayak Iban adalah Mualang, Seberuang, Melanau, dll.
Dayak iban memiliki ciri khas yaitu menjamu tamu dengan tuak (rice wine) serta tato di sekujur tubuh. Tato ini melambangkan pengalaman hidup seseorang, semakin banyak tato di tubuh berarti orang tersebut sudah memiliki banyak pengalaman dan sudah berkelana diberbagai tempat. Motif tato yang sering digunakan adalah motif bunga terong yang berada di atas dada bagian kiri dan kanan.
Yang membedakan Dayak Iban dari sub-suku Dayak lain adalah pakaian tradisional wanita Iban memiliki hiasan kepala dari logam, selain itu Dayak Iban memiliki kain tenun dengan motif yang sangat khas, ditambah dengan hiasan bulu burung enggang dan ruai di bagian kepala. Untuk musik tradisional biasanya didominasi oleh Gendang, kollatung, dan Gong.
4. Dayak Klemantan / Dayak Darat
Dayak Klemantan atau disebut juga Dayak Darat mendiami daerah barat pulau Kalimantan. Rumput dayak ini tersebar di hulu-hulu sungai yang ada di Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia. Dayak Darat di Malaysia dikenal dengan nama orang Bidayuh. Sub-suku dari Dayak Darat adalah Kanayatn, Bidayuh, Ketungau, dll.
Dayak Darat dikenal karena sifat yang ramah dan mudah membaur dengan para pendatang. Banyak dari masyarakat Dayak Darat yang bisa memahat. Di beberapa tempat terdapat pahatan patung menyerupai manusia dikenal dengan nama Pantak yang merupakan warisan dari nenek moyang dari rumpun Dayak Darat.
Pakaian tradisional Dayak Darat biasanya didominasi oleh warna merah, kuning, hitam dan putih, dengan hiasan manik-manik. Selain itu terdapat juga rompi dari kulit kayu yang diberi motif tertentu. Untuk hiasan kepala, rumpun Dayak Darat biasanya menggunakan ikat kepala berwarna merah dengan hiasan bulu burung ruai, enggang, atau daun Rinyuakng. Untuk alat musik tradisional biasanya didominasi oleh Suling, Gong, Gendang, dan Kollatung.
5. Dayak Murut
Darat Murut merupakan rumpun Dayak yang berasal dari derah utara dataran tinggi pulau Kalimantan. Dayak Murut tersebar di daerah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sabah, Sarawak, dan Brunei. Adapun sub-suku dari Dayak Murut adalah Okolod, Keningau Murut, Paluan, dll.
Dayak Murut memiliki tarian yang terkenal yaitu tarian Mangunatip. Perkataan Magunatip diambil daripada perkataan "atip" yang bermaksud menekan antara dua permukaan. Penari magunatip memerlukan kemahiran dan ketangkasan yang baik untuk menari melintasi buluh yang dipukul serentak untuk menghasilkan bunyi dan irama tarian tersebut.
Pakaian tradisional Dayak Murut untuk pria secara umum terbuat dari kulit kayu atau kain tenun, dengan ikat kepala serta hiasan bulu burung ruai. Untuk wanita, baju tradisional biasanya di dominasi warna hitam dengan hiasan motif berbagai warna. Untuk alat musik, biasanya didominasi oleh Suling, Gong, Kollatung, dan Kadire/keledik (alat musik tiup).
6. Dayak Punan
Dayak Punan merupakan rumpun yang mendiami daerah Kalimantan Timur, Kalimatan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Malaysia. Dayak Punan memiliki sub-suku Hovongan, Penan, Uheng Kareho, Punan Murung, Bukat, dll.
Masyarakat Dayak Punan dikenal dari pola hidup yang nomaden atau berpindah-pindah, hal ini berbeda dengan kebanyakan suku Dayak lain yang memiliki rumah panjang sebagai tempat tinggal. Saat ini kebanyakan dari sub-suku Dayak Punan telah menetap dan membuat komunitas di suatu desa yang tersebar di berbagai daerah.
Pakaian tradisional Dayak Punan biasanya masih sangat sederhana, beberapa dari Dayak Punan juga melakukan tradisi memanjangkan telinga. Alat musik yang biasa dimainkan adalah Suling yang ditiup dengan menggunakan hidung dan Sape' (Kecapi).
7. Dayak Ot Danum
Rumpun Ot Danum atau Rumpun Barito adalah salah satu rumpun Dayak yang meliputi seluruh suku Dayak di Kalimantan Tengah,Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur bagian selatan dan Kalimantan Barat bagian tenggara. Ada yang berpendapat bahwa kelompok Dayak Rumpun Ot Danum merupakan induk bagi Rumpun Dayak Ngaju, namun terkadang kedua rumpun dipisahkan. Sub-suku dari Dayak Ot Danum adalah Ma'anyan, Tunjung, Benuaq, Lebang, Undan, dll.
Ciri khas dari Dayak Ot Danum adalah pada beberapa upacara penting, seperti upacara kematian, Dayak Ot Danum menggunakan kerbau sebagai binatang yang dikurbankan selain babi. Di dalam upacara tradisional tersebut, para dukun biasanya menggunakan kalung dengan berbagai ornamen kayu, manik, tulang, dsb.
Pakaian tradisional Dayak memiliki variasi warna beragam, termasuk ikat kepala dan ada beberapa sub-suku Dayak Ot Danum yang juga menggunakan daun kelapa sebagai hiasan. Alat musik tradisionalnya adalah Gong, Gendang, dan Kollatung.


SUKU DAYAK SECARA UMUM



Selasa, 20 Juni 2017

BENDA - BENDA PENINGGALAN SEJARAH

1. GOA ANGIN

Goa ini ini terletak di Gunung Kongbeng, goa angin berada di ketinggian bukit 30 meter dari permukaan tanah, ruang terdalam Goa Angin sekitar 100 meter dari ambang goa adalah tempat beberapa arca Hindu Budha ditemukan dan diberikan pertama kali Tim Buijis pada tahun 1925. Arca tersebut diidentifikasi sebagai maha dewa (Siwa), Guru (Agastya), Ganesha, Mahakala, Nandiswara, Nandi, kepala Arca Brahma dan arca Panthein Budha yang diidentifikasi sebagai Wajrapani. Arca Gunung Kongbeng saat ini berupa fragmen, kedua fragmen tersebut tidak dapat diidentifikasi lagi, kecuali posisi duduk diatas padma ganda dalam sikap Ardhaparyangkasana, serta Satwaparyangkasana diatas lapik arca berbentuk padma ganda.
Temuan arca di Gunung Kongbeng merupakan salah satu bukti persebaran pengaruh kebudayaan Hindu Budha di Kalimantan Timur. Arca yang terdapat di situs Gunung Kongbeng diperkirakan merupakan peninggalan dari kerajaan Martapura yang terletak di Muara Kaman, Arca tersebut di larikan di daerah Pantun ( Gunung Kongbeng ), dikarenakan kerajaan Martapura ( kerajaan Kutai Muara Kaman ) diserang oleh kerajaan Kutai Kartanegara pada abad 17. Pada masa itu kerajaan Martapura diperintah oleh raja Darmasetia, sedangkan kerajaan Kutai Kartanegara diperintah oleh Pangeran Sinum Panji Mendapa

2. MESIN UAP BENGALON
Mesian uap pada waktu itu digunakan sebagai peralatan industri di Bengalon, mesin uap ini memiliki tinggi 2,70 meter, panjang 4,8 meter. Mesin uap ini masih dapat dilihat di depan kantor Kecamatan Bengalon. Penemuan peralatan industri ini pertama kali ditemukan di desa Keraitan Kecamatan Bengalon, diperkirakan ada sejak ditandatanganinya perjanjian antara Belanda dan kerajaan Kutai Kartanegara yang berlangsung pada 19 Oktober 1850.
Perjanjian tersebut berisi mengenai eksplorasi oleh para ilmuwan di bidang kehutanan, kelautan dan pertambangan. Mesin uap ini dibuat oleh perusahaan Hk jonker dan Zn Amsterdam yang merupakan salah satu produsen utama mesin pabrik dan prasarana trem serta kereta api di Belanda yang beroperasi 1800-1900an.

3. MAKAM DAYANG PURNAMA / RATU PURNAMA

4. MAKAM RADEN BONGKOK

5. MAKAM NALA MAYANG

6. BATU JAK SARA

7. PIRING KERAMIK

8. MANGKOK KERAMIK

9. KERAMIK WADAH TINTAH

10 SUMUR

11. MAKAM HABIB HASAL AL-IDRUS ( HABIB ALAM 0

12. MAKAM DATUK PIDANG

13. SUMUR LUMPUR BUAL-BUAL

14. DANAU PADANG

15. MASJID AN NUR

16. SUMUR MINYAK PENINGGALAN BELANDA

17. GOA GUNTUNG WANGI

18. LAPANGAN OLAHRAGA PENINGGALAN BELANDA

19.RUMAH ADAT WIRO LUNG

20. MAKAM WIRO LUNG

21. KERIS WIRO LUNG

22. TAJI WIRO LUNG

23. MAKAM MOHD. ISA ( GEWAL ) BIN UDAN