Selasa, 29 Agustus 2017

Secara umum kebanyakan penduduk kepulauan Nusantara adalah penutur bahasa Austronesia. Saat ini teori dominan adalah yang dikemukakan  ahli linguistik seperti Peter Bellwood dan Blust, yaitu bahwa tempat asal bahasa Austronesia adalah Taiwan. Sekitar 4000 tahun lalu, sekelompok orang Austronesia mulai bermigrasi ke Filipina. Kira-kira 500 tahun kemudian, ada kelompok yang mulai bermigrasi ke selatan menuju kepulauan Indonesia sekarang, dan ke timur menuju Pasifik.


Namun orang Austronesia ini bukan penghuni pertama pulau Borneo. Antara 6000 dan 7000 tahun lalu, waktu permukaan laut 120 atau 150 meter lebih rendah dari sekarang dan kepulauan Indonesia berupa daratan (para geolog menyebut ini "Daratan Sunda"), manusia sempat bermigrasi dari benua Asia menuju ke selatan dan sempat mencapai benua Australia yang saat itu tidak terlalu jauh dari daratan Asia.


Dari pegunungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Tetek Tahtum menceritakan perpindahan suku Dayak dari daerah hulu menuju daerah hilir sungai.

Di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389. Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1520).

Sebagian besar suku Dayak di wilayah selatan dan timur kalimantan yang memeluk Islam tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai atau orang Banjar dan Suku Kutai. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Amas dan Watang Balangan. Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang pimpinan Banjar Hindu yang terkenal adalah Lambung Mangkurat menurut orang Dayak adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum).Di Kalimantan Timur, orang Suku Tonyoy-Benuaq yang memeluk Agama Islam menyebut dirinya sebagai Suku Kutai. Tidak hanya dari Nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa tercatat mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf hanzi disebutkan bahwa kota yang pertama dikunjungi adalah Banjarmasin. Kunjungan tersebut pada masa Sultan Hidayatullah I dan Sultan Mustain Billah. Hikayat Banjar memberitakan kunjungan tetapi tidak menetap oleh pedagang jung bangsa Tionghoa dan Eropa (disebut Walanda) di Kalimantan Selatan telah terjadi pada masa Kerajaan Banjar Hindu (abad XIV). Pedagang Tionghoa mulai menetap di kota Banjarmasin pada suatu tempat dekat pantai pada tahun 1736.

Kedatangan bangsa Tionghoa di selatan Kalimantan tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.

Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Cheng Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci.


Secara umum, suku Dayak dapat dikategorikan menjadi 7 rumpun suku berdasarkan asal daerahnya. Dari ketujuh daerah tersebut, terdapat 405 sub-suku dengan bahasa yang berbeda satu sama lain. Selain bahasa yang berbeda, dialek atau logat untuk satu bahasa yang sama juga bisa sangat beragam jika berbeda kampung. Untuk itu Hipwee akan membahas 7 rumpun suku Dayak yang ada di Kalimantan berdasakan kemiripan budaya serta asal daerahnya.



1. Dayak Ngaju
Dayak Ngaju (Biaju) merupakan Dayak yang bermukim di daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan atau di daerah Kalimatan Tengah, Kalimatan Selatan, serta Kalimantan Barat bagian selatan. Dayak Ngaju memiliki sub-suku Ngaju, Bakumpai, Katingan, Meratus, Tomun, dll.
Ciri khas dari Dayak Ngaju adalah agama kaharingan yang masih dianut oleh sebagian suku Ngaju, serta upacara Tiwah, atau upacara mengantarkan roh leluhur. Untuk pakaian adat, Dayak Ngaju biasanya menggunakan warna merah sebagai warna dominan, kain atau rompi dari kulit kayu, serta menggunakan bulu burung enggang dan ruai sebagai hiasan kepala.

Pada beberapa tarian adat, kaum wanita Ngaju biasanya juga membawakan tarian dengan menggunakan mandau/parang (contoh : Tari Hetawang Hakangkalu), hal ini berbeda dari wanita sub-suku Dayak lainnya. Selain itu, alat musik tradisional Dayak Ngaju biasanya di dominasi oleh Kecapi Karungut, Rebab, Gandang Tatau, Gong, dan suling.
2. Dayak Apo Kayan
Dayak Apo Kayan merupakan suku Dayak yang berasal dari Hulu sungai Kayan dan dataran tinggi Usun Apau, Baram, Sarawak. Saat ini Dayak Apo Kayan menyebar di daerah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat bagian utara, dan Sarawak, Malaysia. Sub-suku yang termasuk dalam rumpun Apo Kayan adalah Kayan, Kenyah, Bahau, Kelabit, dll. Di Malaysia, Dayak Apo Kayan dikenal dengan sebutan Orang Ulu.
Ciri khas dari Dayak Apo Kayan adalah telinga panjang, serta tato di sekujur tubuh yang menandakan status sosial di masyarakat. Pakaian adat Dayak Apo Kayan biasanya di dominasi oleh warna Hitam, Putih, dan Kuning. Serta dapat ditemukan berbagai hiasan manik-manik dan hiasan bulu enggang.
Alat musik yang paling terkenal dari rumput Dayak Apo Kayan adalah Kecapi tradisional atau Sape' (Bahasa Kayan) atau Sampe' (Bahasa Kenyah), kecapi ini berbeda dari karungut, berfungsi sebagai alat musik melodis dan ukurannya lebih besar. Selain itu ada juga Gong, Sluding/klentangan, Kadire/keledik (alat musik tiup), dan Antoneng.
3. Dayak Iban
Dayak Iban, disebut juga Dayak Laut, merupakan rumpun dayak yang berada di daerah utara pulau Kalimantan. Dayak Iban menyebar di daerah Kalimantan Barat bagian utara, Sabah, Brunei, dan Sebagian besar ada di Sarawak. Dari segi bahasa Dayak Iban memiliki kemiripan dengan bahasa Melayu. Adapun sub-suku dari Dayak Iban adalah Mualang, Seberuang, Melanau, dll.
Dayak iban memiliki ciri khas yaitu menjamu tamu dengan tuak (rice wine) serta tato di sekujur tubuh. Tato ini melambangkan pengalaman hidup seseorang, semakin banyak tato di tubuh berarti orang tersebut sudah memiliki banyak pengalaman dan sudah berkelana diberbagai tempat. Motif tato yang sering digunakan adalah motif bunga terong yang berada di atas dada bagian kiri dan kanan.
Yang membedakan Dayak Iban dari sub-suku Dayak lain adalah pakaian tradisional wanita Iban memiliki hiasan kepala dari logam, selain itu Dayak Iban memiliki kain tenun dengan motif yang sangat khas, ditambah dengan hiasan bulu burung enggang dan ruai di bagian kepala. Untuk musik tradisional biasanya didominasi oleh Gendang, kollatung, dan Gong.
4. Dayak Klemantan / Dayak Darat
Dayak Klemantan atau disebut juga Dayak Darat mendiami daerah barat pulau Kalimantan. Rumput dayak ini tersebar di hulu-hulu sungai yang ada di Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia. Dayak Darat di Malaysia dikenal dengan nama orang Bidayuh. Sub-suku dari Dayak Darat adalah Kanayatn, Bidayuh, Ketungau, dll.
Dayak Darat dikenal karena sifat yang ramah dan mudah membaur dengan para pendatang. Banyak dari masyarakat Dayak Darat yang bisa memahat. Di beberapa tempat terdapat pahatan patung menyerupai manusia dikenal dengan nama Pantak yang merupakan warisan dari nenek moyang dari rumpun Dayak Darat.
Pakaian tradisional Dayak Darat biasanya didominasi oleh warna merah, kuning, hitam dan putih, dengan hiasan manik-manik. Selain itu terdapat juga rompi dari kulit kayu yang diberi motif tertentu. Untuk hiasan kepala, rumpun Dayak Darat biasanya menggunakan ikat kepala berwarna merah dengan hiasan bulu burung ruai, enggang, atau daun Rinyuakng. Untuk alat musik tradisional biasanya didominasi oleh Suling, Gong, Gendang, dan Kollatung.
5. Dayak Murut
Darat Murut merupakan rumpun Dayak yang berasal dari derah utara dataran tinggi pulau Kalimantan. Dayak Murut tersebar di daerah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sabah, Sarawak, dan Brunei. Adapun sub-suku dari Dayak Murut adalah Okolod, Keningau Murut, Paluan, dll.
Dayak Murut memiliki tarian yang terkenal yaitu tarian Mangunatip. Perkataan Magunatip diambil daripada perkataan "atip" yang bermaksud menekan antara dua permukaan. Penari magunatip memerlukan kemahiran dan ketangkasan yang baik untuk menari melintasi buluh yang dipukul serentak untuk menghasilkan bunyi dan irama tarian tersebut.
Pakaian tradisional Dayak Murut untuk pria secara umum terbuat dari kulit kayu atau kain tenun, dengan ikat kepala serta hiasan bulu burung ruai. Untuk wanita, baju tradisional biasanya di dominasi warna hitam dengan hiasan motif berbagai warna. Untuk alat musik, biasanya didominasi oleh Suling, Gong, Kollatung, dan Kadire/keledik (alat musik tiup).
6. Dayak Punan
Dayak Punan merupakan rumpun yang mendiami daerah Kalimantan Timur, Kalimatan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Malaysia. Dayak Punan memiliki sub-suku Hovongan, Penan, Uheng Kareho, Punan Murung, Bukat, dll.
Masyarakat Dayak Punan dikenal dari pola hidup yang nomaden atau berpindah-pindah, hal ini berbeda dengan kebanyakan suku Dayak lain yang memiliki rumah panjang sebagai tempat tinggal. Saat ini kebanyakan dari sub-suku Dayak Punan telah menetap dan membuat komunitas di suatu desa yang tersebar di berbagai daerah.
Pakaian tradisional Dayak Punan biasanya masih sangat sederhana, beberapa dari Dayak Punan juga melakukan tradisi memanjangkan telinga. Alat musik yang biasa dimainkan adalah Suling yang ditiup dengan menggunakan hidung dan Sape' (Kecapi).
7. Dayak Ot Danum
Rumpun Ot Danum atau Rumpun Barito adalah salah satu rumpun Dayak yang meliputi seluruh suku Dayak di Kalimantan Tengah,Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur bagian selatan dan Kalimantan Barat bagian tenggara. Ada yang berpendapat bahwa kelompok Dayak Rumpun Ot Danum merupakan induk bagi Rumpun Dayak Ngaju, namun terkadang kedua rumpun dipisahkan. Sub-suku dari Dayak Ot Danum adalah Ma'anyan, Tunjung, Benuaq, Lebang, Undan, dll.
Ciri khas dari Dayak Ot Danum adalah pada beberapa upacara penting, seperti upacara kematian, Dayak Ot Danum menggunakan kerbau sebagai binatang yang dikurbankan selain babi. Di dalam upacara tradisional tersebut, para dukun biasanya menggunakan kalung dengan berbagai ornamen kayu, manik, tulang, dsb.
Pakaian tradisional Dayak memiliki variasi warna beragam, termasuk ikat kepala dan ada beberapa sub-suku Dayak Ot Danum yang juga menggunakan daun kelapa sebagai hiasan. Alat musik tradisionalnya adalah Gong, Gendang, dan Kollatung.


SUKU DAYAK SECARA UMUM



Selasa, 20 Juni 2017

BENDA - BENDA PENINGGALAN SEJARAH

1. GOA ANGIN

Goa ini ini terletak di Gunung Kongbeng, goa angin berada di ketinggian bukit 30 meter dari permukaan tanah, ruang terdalam Goa Angin sekitar 100 meter dari ambang goa adalah tempat beberapa arca Hindu Budha ditemukan dan diberikan pertama kali Tim Buijis pada tahun 1925. Arca tersebut diidentifikasi sebagai maha dewa (Siwa), Guru (Agastya), Ganesha, Mahakala, Nandiswara, Nandi, kepala Arca Brahma dan arca Panthein Budha yang diidentifikasi sebagai Wajrapani. Arca Gunung Kongbeng saat ini berupa fragmen, kedua fragmen tersebut tidak dapat diidentifikasi lagi, kecuali posisi duduk diatas padma ganda dalam sikap Ardhaparyangkasana, serta Satwaparyangkasana diatas lapik arca berbentuk padma ganda.
Temuan arca di Gunung Kongbeng merupakan salah satu bukti persebaran pengaruh kebudayaan Hindu Budha di Kalimantan Timur. Arca yang terdapat di situs Gunung Kongbeng diperkirakan merupakan peninggalan dari kerajaan Martapura yang terletak di Muara Kaman, Arca tersebut di larikan di daerah Pantun ( Gunung Kongbeng ), dikarenakan kerajaan Martapura ( kerajaan Kutai Muara Kaman ) diserang oleh kerajaan Kutai Kartanegara pada abad 17. Pada masa itu kerajaan Martapura diperintah oleh raja Darmasetia, sedangkan kerajaan Kutai Kartanegara diperintah oleh Pangeran Sinum Panji Mendapa

2. MESIN UAP BENGALON
Mesian uap pada waktu itu digunakan sebagai peralatan industri di Bengalon, mesin uap ini memiliki tinggi 2,70 meter, panjang 4,8 meter. Mesin uap ini masih dapat dilihat di depan kantor Kecamatan Bengalon. Penemuan peralatan industri ini pertama kali ditemukan di desa Keraitan Kecamatan Bengalon, diperkirakan ada sejak ditandatanganinya perjanjian antara Belanda dan kerajaan Kutai Kartanegara yang berlangsung pada 19 Oktober 1850.
Perjanjian tersebut berisi mengenai eksplorasi oleh para ilmuwan di bidang kehutanan, kelautan dan pertambangan. Mesin uap ini dibuat oleh perusahaan Hk jonker dan Zn Amsterdam yang merupakan salah satu produsen utama mesin pabrik dan prasarana trem serta kereta api di Belanda yang beroperasi 1800-1900an.

3. MAKAM DAYANG PURNAMA / RATU PURNAMA

4. MAKAM RADEN BONGKOK

5. MAKAM NALA MAYANG

6. BATU JAK SARA

7. PIRING KERAMIK

8. MANGKOK KERAMIK

9. KERAMIK WADAH TINTAH

10 SUMUR

11. MAKAM HABIB HASAL AL-IDRUS ( HABIB ALAM 0

12. MAKAM DATUK PIDANG

13. SUMUR LUMPUR BUAL-BUAL

14. DANAU PADANG

15. MASJID AN NUR

16. SUMUR MINYAK PENINGGALAN BELANDA

17. GOA GUNTUNG WANGI

18. LAPANGAN OLAHRAGA PENINGGALAN BELANDA

19.RUMAH ADAT WIRO LUNG

20. MAKAM WIRO LUNG

21. KERIS WIRO LUNG

22. TAJI WIRO LUNG

23. MAKAM MOHD. ISA ( GEWAL ) BIN UDAN

Senin, 23 Februari 2015

Kerajaan Kutai Jaman Hindu

Kutai Martapura ialah kerajaan yang bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Berdiri sekitar abad ke-4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. nama Kutai diberikan oleh para ahli mengmbil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang diperoleh.


Nama Maharaja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yg belum terpengaruh dengan nama budaya India. Sementara putranya yg bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu. Hal ini di dasarkan pada kenyataan bahwa kata Warman berasal dari bahasa Sanskerta. Kata itu biasanya digunakan untuk ahkiran nama-nama masyarakat atau penduduk India bagian Selatan.

Raja-raja Kutai

1. Maharaja Kundungga, gelar anumerta Dewawarman pendiri
2. Maharaja Aswawarman [anak Kundungga]
3. Maharaja Mulawarman
4. Maharaja Marawijaya Warman
5. Maharaja Gajayana Warman
6. Maharaja Tungga Warman
7. Maharaja Jayanaga Warman
8. Maharaja Nalasinga Warman
9. Maharaja Nala Parana Tungga
10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
11. Maharaja Indra Warman Dewa
12. Maharaja Sangga Warman Dewa
13. Maharaja Candrawarman
14. Maharaja Sri Langka Dewa
15. Maharaja Guna Parana Dewa
16. Maharaja Wijaya Warman
17. Maharaja Sri Aji Dewa
18. Maharaja Mulia Putera
19. Maharaja Nala Pandita
20. Maharaja Indra Paruta Dewa
21. Maharaja Dharma Setia

Yupa
Informasi yg ada diperoleh dari Yupa / prasasti dlm upacara pengorbanan yg berasal dari abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yg menjadi sumber utama bagi para ahli dlm menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Yupa ialah tugu batu yg berfungsi sebagai tiang untuk menambat hewan yg akan dikorbankan. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yg memerintah kerajaan Kutai saat itu ialah Mulawarman. Namanya dicatat dlm yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20. 000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Mulawarman
Mulawarman ialah anak Aswawarman & cucu Kundungga. Nama Mulawarman & Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga ialah pembesar dari Kerajaan Campa [Kamboja] yg datang ke Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha.

Aswawarman
Aswawarman ialah Anak Raja Kudungga. Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yg artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, & salah satunya ialah Mulawarman. Putra Aswawarman ialah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera & makmur. Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, sampai sangat sedikit yg mendengar namanya.
Kemunduran Kerajaan Kutai
  

Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yg bernama Maharaja Dharma Setia tewas dlm peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini [Kutai Martadipura] berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yg ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama [Tanjung Kute]. Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yg disebutkan dlm sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam yg disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.


SILSILAH RAJA-RAJA KUTAI MULAWARMAN

Setelah berakhirnya era Kutai Martadipura atau Mulawarman dengan raja pertama kerajaan Kutai adalah Kudungga , munculah kerajaan Kutai Kartanegara di Tanjung Kue, Kalimantan Timur. Kini letak kerajaan tersebut hanya berisi semak belukar dan beberapa makam kuno, yang dipercaya sebagai makam keramat. Kerajaan Kutai Kartanegara disebutkan juga pada kitab pararaton. Bermula dari kepala suku jahitan luar yang bermasalah karena tak kunjung dikaruniai keturunan padahal sudah lama menjalin rumah tangga. Hingga akhirnya ia mendapat bola emas dan ajaibnya di dalam bola emas itu muncul seorang anak laki-laki dan kemudian diberi nama olehnya, Aji Batara Agung Dewa Sakti. Di waktu bersamaan kepala suku hulu dusun menemukan seorang anak perempuan di sungai Mahakam, yang kemudian diberi nama Putri Karang Melenu atau Putri Junjung Buih. Singkat cerita kedua anak tersebut berjodoh dan menikah hingga melahirkan seorang keturunan yang dinamai dengan Aji Paduka Nira. Setelah itu Aji Batara memutuskan untuk berkelana dan pergi ke Pulau Jawa untuk melakukan perjalanan ke kerajaan Majapahit. Nahas bagi Putri Melenu, usai tak tahan ditinggal Aji Batara untuk hidup sendiri, ia akhirnya memilih untuk menceburkan diri ke sungai Mahakam. Setelah pulang, Aji Batara yang sedih mengetahui istrinya tiada juga memutuskan untuk tenggelam di sungai Mahakam. Singkat cerita, Paduka Nira yang sudah beranjak dewasa kemudian menikahi seorang gadis bernama Putri Paduka Suri. Paduka Nira pun memiliki total tujuh anak, lima di antaranya laki-laki dan sisanya perempuan. Paduka Suri merupakan keturunan kerajaan Kutai Martadipura yang merupakan Mulawarman. Meski begitu, pernikahan itu dinilai terjadi karena untuk menghindari perselisihan antar kedua kerajaan hingga akhirnya berdiri kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu dipimpin oleh Maharaja Sultan


  1. Aji Batara Agung Dewa Sakti 1300-1325 M
  2. Aji Batara Agung Paduka Nira 1325-1360 M
  3. Maharaja Sultan 1360-1420 M
  4. Raja Mandarsyah 1420-1475 M
  5. Pangeran Tumenggung Bayabaya 1475-1545 M
  6. Raja Makota 1454-1610 M
  7. Aji Dilanggar 1610-1635 M
  8. Pangeran Sinum Panji Mendapa Ing Martadipura 1635-1650 M
  9. Pangeran Dipati Agung Ing Martadipura 1650-1665 M
  10. Pangeran Dipati Maja Kusuma Ing Martadipura 1665-1686 M
  11. Aji Ragi Gelar Ratu Agung 1686-1700 M
  12. Pangeran Dipati Tua Ing Martadipura 1700-1710 M
  13. Pangeran Anum Panji Mendapa Ing Martadipura 1710-1735 M
  14. Sultan Aji Muhammad Idris 1735-1778 M
  15. Sultan Aji Muhammad Aliyeddin 1778-1780 M
  16. Sultan Aji Muhammad Muslihuddin 1780-1816 M
  17. Sultan Aji Muhammad Salehuddin 1816-1845 M
  18. Dewan Perwalian 1845-1850 M
  19. Sultan Aji Muhammad Sulaiman 1850-1899 M
  20. Sultan Aji Muhammad Alimuddin 1899-1910 M
  21. Pangeran Mangkunegoro 1910-1920 M
  22. Sultan Aji Muhammad Parikesit 1920-1960 M
  23. Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin II  1999 - 2018
  24. Sultan Aji Muhammad Arifin  2018 s/d sekarang